Minggu, 02 Juni 2013

Profil Ponpes Salaf APIK Kaliwungu



Sejarah Ponpes Salaf APIK Kaliwungu
 
Ponpes salaf APIK Kaliwungu
Sejarah Berdirinya
Pondok Pesantren APIK Kaliwungu Kendal didirikan pada tanggal 12 Februari 1919 oleh KH. Irfan bin Musa bin Abdul Baqi bin Mu’arif bin Qomarudin bin Jiwosuto (Panembahan Demak Bintoro). Pada awal berdirinya Pondok Pesantren ini, Pendiri dan Tokoh masyarakat sekitar Kaliwungu sepakat untuk memberi nama Al Ma’hadus Salafi Al-Kaumani. Pemberian nama Pondok Pesantren tersebut bukan tanpa alasan melainkan dilatarbelakangi oleh fakta bahwa para santri yang belajar di sana berasal dari daerah sekitar Masjid Jami’ Al-Muttaqien Kaliwungu. Dimana pada jaman dahulu masyarakat yang tinggal di sekitar masjid disebut masyarakat kauman. Sementara tujuan dari kegiatan belajar tersebut adalah agar para santri mengetahui dan meneladani para orang soleh terdahulu (salafi).
Seiring dengan bertambahnya santri yang tidak hanya berasal dari daerah sekitar, maka Pendiri dan Tokoh masyarakat Kaliwungu mengasramakan para santri yang berasal dari luar daerah Kaliwungu. Bangunan pertama yang didirikan oleh KH. Irfan bin Musa (Kakak KH. Ridwan bin Musa) adalah sebuah Asrama dengan ukuran sekitar 15 m2  yang merupakan tanah wakaf dari salah satu istri beliau. Dana yang dipergunakan untuk Pembangunan Asrama tersebut adalah 75% ditanggung oleh Kakak dari KH. Irfan bin Musa yakni KH. Abdur Rasyid bin Musa (Ayah dari KH. Utsman dan KH. Ahmad Badawi) yang berprofesi sebagai Pedagang yang berhasil, sedang 25% diperoleh dari infak masyarakat sekitar.
Pada tahun 1932, KH. Irfan bin Musa wafat dan karena putra-putra beliau dianggap belum mampu mengemban tugas mengasuh Pondok Pesantren tersebut, maka estafet kepemimpinan Pondok diemban oleh keponakan beliau yang bernama KH. Ahmad Rukyat. Pada masa kepemimpinan beliau inilah Pondok Pesantren tersebut sangat maju, karena pada saat itu merupakan masa-masa perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah dimana rumah Pendiri Pondok dijadikan sebagai posko Palang Merah. Diantara ribuan santri KH. Ahmad Rukyat yang menjadi Ulama/Tokoh masyarakat adalah KH. Abuya Dimyati Banten, KH. A. Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom) Tasikmalaya, KH. Asror Ridwan Kaliwungu dan KH. Dimyati Rois Kaliwungu. Serta masih banyak lagi santri-santri KH. Ahmad Rukyat yang menjadi Ulama besar.
Pada masa Kepemimpinan KH. Ahmad Rukyat inilah nama Pondok Pesantren Salafi al-Kaumani berubah menjadi Asrama Pelajar Islam Kauman (APIK) Kaliwungu. Perubahan nama tersebut didasarkan pada situasi saat itu dimana pergolakan politik negara dengan munculnya organisasi-organisasi massa seperti Masyumi, Nahdlatul Ulama dan organisasi kepemudaan lain. Setelah wafatnya KH. Ahmad Rukyat (1968), Pondok Pesantren yang semula dalam pengajarannya hanya menggunakan metode sorogan dan bandongan, ditambah dengan metode klasikal.
Pada masa kepemimpinan generasi ketiga, nama “APIK” tidak diartikan sebagai suatu singkatan lagi, tapi suatu kata dalam bahasa Jawa yang berarti “BAIK” dengan harapan agar para santri menjadi santri yang baik.
Sejak tahun 1919 hingga sekarang Pondok ini telah mengalami 4x pergantian kepemimpinan. Pondok Pesantren APIK Kaliwungu telah berdiri selama 87 tahun, dan tanggapan serta support masyarakat terhadap lembaga pendidikan ini cukup baik. Di antara faktor pendukung dari eksistensi Pondok ini terletak pada figur Kyai sebagai tokoh sentral yang memimpin/menjadi Pengasuh Pondok dan juga makin bertambahnya jumlah santri yang belajar di Pondok Pesantren tersebut dari tahun ke tahun. 
Asrama Santri PP. APIK Kaliwungu
 Lebih Dekat dengan MSMH
Sebagaimana pesantren-pesantren pada umumnya, pengajaran di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu mula-mula diselenggarakan dengan sistem bandongan dan sorogan. Pada tahun 1968 sistem klasikal dalam bentuk madrasah mulai dibuka. Madrasah Diniyah ini diberi nama Madrasah Salafiyah Miftahul Hidayah (MSMH) yang sepenuhnya mengajarkan materi-materi keagamaan yang bersumber dari Kitab kuning. Lama pendidikannya 8 tahun yang terdiri atas 3 tingkatan, tingkat I’dadiyah (persiapan) 2 tahun, Tsanawiyah 3 tahun dan Aliyah 3 tahun.
Pengajaran di Madrasah dilakukan oleh 36 Ustadz di bawah bimbingan Kyai. Mereka adalah Santri senior yang sudah menamatkan pendidikannya di Pesantren ini. Menurut KH. Solahudin Humaidullah, mengajar adalah bagian dari Pendidikan Pondok Pesantren sekaligus merupakan wahana pematangan diri, baik nalar maupun emosi guna melatih mereka sebelum terjun ke Masyarakat. Para ustadz tersebut tidak diberi gaji layaknya di sekolah-sekolah umum, namun sekedar bisyaroh untuk keperluan keilmuan mereka.
Menurut Kepala MSMH saat ini, Ustadz Abdul Muqsith, calon santri tidak diharuskan mengikuti Pelajaran sejak tingkat I’dadiyah, namun bisa saja masuk pada tingkat di atasnya, tergantung ilmu yang telah dimiliki sebelumnya. Untuk masuk Tsanawiyah kelas I harus hafal seluruh bait Kitab ‘Awamil,  kelas II Kitab ‘Imrithi dan kelas III Kitab Alfiyah Ibnu Malik. Untuk masuk kelas I Aliyah harus hafal seluruh bait Kitab Alfiyah, kelas II Kitab Jauharul Maknun dan membaca kitab Fathul Mu’in.
Kegiatan Pendidikan di Madrasah dilaksanakan setiap hari kecuali hari Jum’at dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB di dalam kelas. Pukul 16.30 WIB sampai pukul 17.30 WIB para santri mengikuti kegiatan di kelasnya masing-masing. Pukul 20.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB mereka mengikuti musyawarah sesuai kelas masing-masing. Kegiatan ini dipimpin oleh ra’is (ketua) kelas dan dibimbing mustahiq (wali) kelas dan munain (guru mata pelajaran) untuk mendiskusikan berbagai permasalahan berkaitan dengan materi pelajaran yang sudah diterima di kelas, terutama bidang Nahwu dan Fiqih. Setiap masalah yangmuncul dicoba untuk dipecahkan oleh peserta namun bila tidak terselesaikan, maka akan dijawab oleh wali kelas. Selain mengikuti kegiatan klasikal, para santri juga dapat mengikuti pengajian bebas yang dilaksanakan di beberapa tempat setelah sholat lima waktu dengan materi yang beragam dan santri dapat memilih sesuai dengan minat mereka masing-masing.
Setiap malam jum’at kliwon diadakan jam’iyyah kubro yang diikuti oleh seluruh santri, berisi acara istighosah, yasin, tahlil serta nasehat dari para ustadz. Sedang pada malam jum’at lainnya diadakan jam’iyyah sughro. Dalam kegiatan ini para santri secara bergiliran menurut kompleks asrama mendapat tugas memimpin tahlil, membaca Al-qur’an, Al-barzanji dan latihan pidato. Acara ini diakhiri dengan ulasan dari pengurus. Selain waktu-waktu tersebut para santri dapat mengunakan waktu mereka secara bebas. Diantara mereka ada yang mengisi waktu dengan kursus komputer atau bahasa Inggris terutama yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Aktivitas pendidikan dan pengajaran yang utama adalah kegiatan belajar mengajar di madrasah. Madrasah Salafi Miftahul Hidayah menerapkan kurikulum yang seluruhnya bersifat keagamaan dan bersumber dari kitab-kitab klasik berbahasa Arab dengan maksud agar pesantren ini tetap terjaga kemurnian dan kemandiriannya Kurikulum yang berlaku di pesantren ini adalah sebagai berikut:
TINGKAT I’DADIYAH

Kelas
Bidang Studi
Nama Kitab
I
Al-Qur’an
Al-Qur'an

Bahasa Arab
Al-Syabrwi
Al-lughah al-arabiyyah

Tauhid
Aqidah al-‘awam
Hidayah al-Shibyan
II
Akhlaq
Nadhom Ala la
Al-akhlaq li al-banin
Tanbih al-muta’allim

Bahasa Arab
Al-Jurumiyah
Sharf

Fiqih
Mabadi’ al-fiqhiyyah

Tauhid
Kharidah al-bahiyyah

Tajwid
Tuhfah al-athfal

TINGKAT TSANAWIYAH
Kelas
Bidang Studi
Nama Kitab
I
Bahasa Arab
al-Jurumiyah
al-awamil al-Jurjani
Qawaid al-I’lal
Sharaf  I
al-‘umrithi
Nadhm al-Maqshud
al-Sharf II
Alfiyah
Qawaid al-I’rab
II
Fiqih
Safinah al-Najah
Bafadlal
Bulugh al-Maram
Fath al-Qarib
al-Waraqat
Fath al-Majid

Tauhid
al-Jawahir al-Kalamiyah
Tijan al-Darari

Sejarah Islam
Khulashah I

Akhlaq
al-Washaya
Ta’lim al-Muta’allim

Hadits
al-Arbain al-Nawawiyah
al-Jazariyah

Sejarah Islam
Khulashah II

TINGKAT ALIYAH
Kelas
Bidang Studi
Nama Kitab
I
Bahasa Arab
Alfiyah Ibnu Malik

Fiqih
Fath al-Mu’in
Iddah al-Faraidl
Bulugh al-Maram
Lathaif al-Isyarah

Tauhid
Kifayah al-Awam

Ulum al-Hadits
Al-Baiquni

Ulum al-qur’an
‘Ilm al-Tafsir
II
Bahasa Arab
Jauhar al-Maknun
al-Dasuqi

Manthiq
Sulam al-Munawwaraq
III
Fiqih
Faraidl al-Bahiyyah
al-Mahalli
Jam’al jawami’

Bahasa Arab
al-‘arudl
Uquh al-Juman

Al-qur’an
Tafsir al-jalalain

Hadits
al-Muwatha’

Tasawuf
Minhaj al-Abidin

Mengenai sarana pendidikan, selain gedung-gedung madrasah yang menjadi sarana utama, asrama dan Masjid Jami’ Al-Muttaqin juga mempunyai fungsi yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, khususnya dalam pembinaan kepribadian santri. Di asrama, santri belajar hidup mandiri dengan mengurus keperluan hidupnya sendiri mulai dari keperluan makan, minum, mencuci, menyetrika, dll. Untuk keperluan makan dan minum, sebagian santri ada yang memasak sendiri dan sebagian yang lain membeli di warung maupun kos. Masjid Jami’ yang terletak di samping Pondok adalah milik masyarakat Kaliwungu dan dibangun dengan dana dari masyarakat pula. Di masjid inilah para santri dapat beribadah setiap saat. Peraturan Pondok mengharuskan setiap santri untuk mengikuti sholat jama’ah 5 waktu. Masjid ini juga berfungsi sebagai aula umum bagi aktivitas santri.
Kurikulum pendidikan yang ada di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu berdasarkan tingkat kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah-masalah yang dibahas dalam kitab. Sedangkan masa pendidikan yang ada di pesantren ini melalui sistem klasikal yaitu berdasarkan tingkat dan jenjang pendidikan dan sistem non-klasikal yakni membaca kitab klasik dengan metode sorogan, bandongan/weton. 
KH. Solahudin Humaidullah sedang mengajar Kitab
 Pimpinan Pesantren mengatur pengajian sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh para ustadz. Para santri bebas untuk memilih dan mengikutinya sesuai dengan tingkatan dan kemampuannya. Bagi santri yang telah lulus dari pendidikan di pesantren tingkat I’dadiyah, Tsanawiyah dan Aliyah boleh menetap di asrama pondok pesantren untuk mengikuti pengajian pada Kyai dan mendalami ilmu yang lebih matang yang disebut takhassus. Takhassus artinya proses pengajian khusus yang diikuti oleh para santri yang telah lulus Aliyah dengan jangka waktu kurang lebih 1 sampai dengan 4 tahun
Sebagaimana anjuran dari Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, semua santri yang telah lulus Aliyah bisa mengikuti pengajian muthola’ah kepada para kyai, pengajian ini merupakan ekstra kurikuler. Adapun pelaksanaannya berupa ifadah dan istifadah. Ifadah adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama di pesantren dengan cara mengajar para santri. Sedang istifadah yaitu mengambil faedah dalam mengkaji dan mendalami ilmu yang ada dalam kitab klasik dengan para kyai selama kurang lebih 4 tahun. Setelah mengikuti program ini santri boleh memilih apakah masih tetap tinggal di pesantren atau tidak. Jadi, bagi santri yang merasa sudah cukup ilmunya atau sebab lain, boleh meninggalkan pesantren. Tapi bagi santriyang masih perlu menimba ilmu yang lebih mendalam boleh tetap tinggal selama yang diinginkan.
Setiap tahun Pondok Pesantren APIK Kaliwungu mewisuda rata-rata 100 orang santri dari madrasah Aliyah, belum termasuk mereka yang drop out. Jumlah mereka mencapai 2% per tahun, baik karena alasan biaya, pindah sekolah atau pesantren lain, maupun sudah merasa memperoleh ilmu agama yang cukup sebagai bekal hidup bermasyarakat. Sistem pendidikan pesantren bersifat fleksibelyang memungkinkan santri mengakhiri pendidikannya dan kembali ke kampung halamannya sewaktu-waktu.
Meskipun kurikulum yang dilaksanakan sepenuhnya bersifat keagamaan, sejak tahun 1997 ijazah yang dikeluarkan diakui setara dengan ijazah Madrasah Aliyah. Dengan demikian, para santri dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi atau melamar pekerjaan yang membutuhkan ijazah formal. Hingga sekarang, sudah lebih dari 15 orang alumni Pondok Pesantren APIK Kaliwungu yang menjadi sarjana tanpa memiliki ijazah SMU. Mereka adalah sarjana bidang agama yang berhasil menamatkan pendidikannya di IAIN, UNISSULA dan Universitas Tribakti Jawa Timur.
Salah satu komplek Ponpes APIK Kaliwungu

 Disusun Oleh Saifurroyya dari Berbagai Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar