Ada seorang santri bernama Dawud. Suatu malam, tepat jam 12, Syaikhona Kholil Bangkalan mengajak Dawud pergi keluar dari rumah. Ketika sampai di suatu tempat, Dawud kaget, karena Syaikhona Kholil bertemu dengan seseorang yang berpenampilan sederhana. Orang itu memanggil Syaikhona Kholil dan mengucapkan salam kepada beliau. Syaikhona Kholil langsung menjawab salamnya, kemudian keduanya saling berpelukan.
Dawud heran melihat pemandangan itu, karena beliau berdua terlihat sudah sangat kenal dan sangat akrab. Padahal Dawud tidak pernah melihat orang itu bertamu ke rumah Syaikhona Kholil. Setelah berpelukan, Syaikhona Kholil berbincang-bincang dengan orang misterius itu. Keduanya asyik ngobrol sedangkan Dawud hanya diam dan mendengarkan saja.
Saking lamanya beliau berdua ngobrol, Dawud sampai kesal, mangkel, dan menggerutu dalam hati.
“Orang ini tidak punya sopan santun, kalau ada keperluan kepada Syaikhona Kholil kenapa tidak langsung sowan saja ke rumah beliau, kenapa harus bertemu di luar kayak gini, tengah malam lagi.” gerutu Dawud dalam hati.
Beliau berdua masih saja asyik ngobrol seakan-akan lupa waktu kalau sudah sangat larut malam, sementara Dawud tambah kesal, mangkel, karena selain dia sudah sangat ngantuk, dia juga dikerubinin nyamuk dari tadi. Sampai kulitnya bentol-bentol yang digigit nyamuk. Dawud jengkel dan marah dalam hatinya.
Setelah sekian lama asyik ngobrol, lalu orang mesterius itu pamit kepada Syaikhona Kholil, dan mengakhiri obrolannya. Mereka berdua berpelukan lagi. Setelah itu dia pergi dan dalam sekejab orang itu sudah menghilang begitu saja. Setelah orang misterius itu tak tampak oleh penglihatan mata, Syaikhona Kholil bertanya kepada santrinya tersebut.
“Wud, apa kamu tahu orang tadi itu siapa?,” tanya Syaikhona Kholil.
“Tidak tahu, kiai,” jawab Dawud dengan penuh takdzim.
“Beliau adalah Nabiyullah Khidir. Tidak mudah bertemu dengan beliau, siapapun kalau ingin bertemu dengan beliau harus banyak berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah, dan jangan melakukan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya,” Syaikhona Kholil menjelaskan dengan tegas.
Mendengar apa yang didawuhkan Syaikhona Kholil itu, Dawud tubuhnya lemas dan tak habis pikir orang yang dia lihat dari tadi bersama Syaikhona Kholil ternyata adalah seorang Nabiyullah Khidir, gurunya para auliya.
“Kenapa Kiai tidak ngasih tahu dari tadi, kalau beliau itu Nabiyullah Khidir,” Dawud balik bertanya sambil sedikit protes.
“Makanya, Dawud kalau mendampingi kiainya itu harus ikhlas dan sabar,” jawab Syaikhona Kholil seolah tahu yang ada dalam hati Dawud. Dawud akhirnya menyesal, bahkan sangat menyesal, karena telah berburuk sangka dan menggerutu menganggap orang itu tidak punya sopan santun.
|
Makam Syaikhona Kholil |
Itulah karomah Syaikhona Kholil Bangkalan, begitu akrab dengan Nabiyullah Khidir. Memang seorang nabi dan para wali itu tidak wafat, mereka hanya berpindah tempat dari dunia ini. Beliau kapan saja bisa bertemu bahkan dengan Nabi Muhammad dan para nabi yang lain.
Semoga kita selalu menadapat kucuran barokah dari Nabi Khidir dan para waliyullah, bersambung hingga ke Baginda Nabi Muhammad dan besok di hari kiamat kita semua mendapat syafa’at dari beliau. Amiiin.
Wallahu A’lam
Sumber: bangkitmedia.com
ADS HERE !!!