Jumat, 17 Mei 2013

TIGA PERKARA YANG MENIMBULKAN BENCANA



TIGA PERKARA YANG MENIMBULKAN BENCANA 

Rasulullah saw. bersabda :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بنفْسِهِ 
 “Tiga perkara yang merusak yaitu, menuruti kebakhilan (kikir), mengikuti hawa nafsu dan mengagumi diri sendiri”.
Sesungguhnya ketiga perkara itu adalah urusan batiniyah tetapi jika dibiarkan ketiganya dapat merusak urusan lahiriyah, mulai dari merusak tatanan keluarga, budaya hingga tataran ekonomi masyarakat. Jika kita baca sekilas saja, hadits ini seolah hanya berfungsi sebagai hadits motivasi, semacam golden ways, yang memberi tips bagaimana tata cara hidup yang sukses dan benar. Padahal tidak demikian, karena sesungguhnya teks ini adalah hadits Rasulullah saw yang kadar kebenarannya seratus persen. Hadits Rasulullah saw bukan sekedar motivasi yang memberi janji, tetapi hadits itu berbicara bukti dalam kehidupan individu maupun masyarakat.
Marilah kita ungkap bersama, bahwa ada tiga hal yang merusak hidup manusia yaitu menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan mengagumi diri sendiri. Memang ketiga hal ini sangatlah bersifat batiniah, karena ketiganya beroperasi dalam hati. Sehingga ketiganya sangat bersifat individualis dan sangat pribadi sekali. Tetapi jika dibiarkan, ketiga masalah tersebut yang batiniah dan privasi itu akan merusak tatanan dhahir dan sosial. Kita akan melihat bagaimana penyakit hati yang tersimpan rapat dan sangat rahasia ini dapat merusak kehidupan nyata, kehidupan bermasyarakat, bahkan juga berbangsa dan bernegara. Jika ketiga penyakit itu menjalar kesebagian besar bangsa ini, maka hadits ini akan berlaku bagi bangsa Indonesia.
Perkara pertama yang dapat merusak adalah شخ مطاع  syukhkhun mutha’un (kikir yang dituruti). Kata syukkun, meskipun memiliki padanan dalam bahasa Arab bakhil, tetapi kata syukhkhun menunjukkan tingkat kebakhilan yang lebih tinggi, tidak sekedar pelit atau kikir biasa. Karena jika bakhil itu bermakna orang yang mempertahankan miliknya jangan sampai kepada orang lain. Namun syukhkhun lebih dari itu, ia adalah orang yang memepertahakan dan tidak rela, kalau ada kenikmatan Allah swt yang diberikan kepada orang lain. Walaupun ia sadari bahwa rahmat dan nikmat itu milik Allah swt dan bukan miliknya. Secara tidak langsung, sifat inilah akar dari sifat madzmumah yang terkenal dan berbahaya yaitu hasud. Hasud adalah perasaan iri dan dengki dengan kenikmatan dan rahmat yang diterima orang lain serta menginginkan rahmat itu berpindah kepadanya. Sungguh inilah karakter terburuk manusia. Kebobrokan moral yang paling tinggi, dibandingkan dengan kenakalan remaja dan praktik kekerasan dimanapun juga. Karena tindak kekerasan hanyalah pengembangan dari sifat hasud ini.
Karena itu pantaslah jika Rasulullah saw berpesan dengan sangat ‘mewanti-wanti’ dalam haditsnya:
أن النبي صلى الله عليه وسلم قال  إياكم والحسد فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب 
Jagalah dirimu dari hasud, karena sesungguhnya hasud akan meruntuhkan amal kebajikan sebagaimana api membakar kayu bakar
Andaikata syukhkhun yang mengembang menjadi hasud itu berdampak pada hilangnya amal baik, dan perkara amal itu urusan nanti diakhirat, terus dimanakah bahaya syukhkhun muthaun  dalam kehidupan nyata ini? ada sebuah hadits tentang syukhkhun, dan hadits ini sangat berorientasi pada kehidupan bermasyarakat/ijtimaiyyah yaitu
وَالْشحي بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ 
Orang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka.
Pemahaman yang baik atas hadits ini adalah betapa ragam dalam kehidupan merupakan sunnatullah maka kaya-miskin, ada-tiada, adalah kenyataan. Dan semua itu dapat berjalan saling harmoni jika mereka yang kaya dan ada suka berbagi. Begitu pula sebaliknya, jika mereka kelompok yang kaya, yang mampu malah melakukan monopoli dan dominasi. Maka perputaran ekonomi tidak akan normal dan sehat lagi. Karena yang kaya akan makin kaya dan yang melarat akan tambah sekarat. Bukankah itu namanya syakhiyyun jika dia berekonomi dengan kaedah ‘memperoleh untung sebesar-besranya dengan modal sedikit-dikitnya?’
Bukankah ini yang terjadi dengan perekonomian di Negara kita. Ketika modal asing yang sangat kuat menggempur ekonomi mandiri masyarakat kecil dan menengah. Maka pemilik modal itulah yang sekarang menguasai pasar ekonomi negeri ini. Dengan berkedok investasi mereka ingin menguasai perdagangan dalam negeri dan anehnya mereka diberi jalan oleh penguasa/pemerintah dengan dalih mengatur hajat-hidup bangsa ini.
Pertanyaannya kemudian, bagaimanakah bisa para pejabat, penguasa dan pemerintah itu memberi jalan kepada para investor/pemilik modal dan para syakhiyyun itu?
Jawabnya ada dalam penyakit keduaوهوى متبع  wa hawa muttaba’ (nafsu yang selalu dituruti). Nafsu atau kesenangan memang urusan pribadi, daftar keinginan dan kesenangan itu berderet dalam hati. Mungkin jika dituliskan dalam kertas akan menghabiskan berlembar-lembar. Jika seseorang telah bertekad untuk menuruti segala keinginan memenuhi kesenangannya, maka apapun akan dilakukan. Tidak perduli kelakuannya akan mengorbankan masyarakat yang di dalam masyarakat itu ada keluarganya, ada orang-orang yang berjasa padanya. Inilah yang dalam Negara ini tergambar dalam tindakan korupsi.
Korupsi adalah contoh termudah dari penurutan hawa nafsu, nafsu memiliki banyak rumah dan mobil yang mewah, serta banyak perempuan cantik. Maka ketika para syakhiyyun itu menawarkan kerja sama dengan keuntungan yang memikat dan para pemilik kebijakan menuruti hawa nafsunya, maka terjadilah tindak korupsi.
Membeli Sapi dari luar negeri, membeli buah dari luar negeri, membeli kedelai dari luar negeri, membeli singkong dari luar negeri, membeli gula dari luar negeri. Semua dilakukan demi keuntungan pribadi, demi memenuhi keinginan pribadi tanpa merasa iba kepada petani sapi, petani buah, petani singkong dan petani tebu. Bukankah ini merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sekali lagi memang syakhiyy dan nafsu adalah masalah bathin, adanya terselubung jauh dalam hati, tapi jika ia telah bergerak dan menguasai badan ini, ia mampu merusak tatanan kehidupan nyata, mengoyak-ngoyak tatanan ekonomi riil dan mempercuram jenjang sosial kehidupan.
Ketiga, adalah إعجاب المرء بنفسه  I’jabul mar’i binafsih mengagumi diri sendiri yang terkenal dengan ‘ujub. ‘Ujub adalah satu penyakit hati paling akut yang susah sekali mengobatinya. Dokter sekaliber apapun tidak sanggup mengobati. Pada praktiknya penyakit ini akan membawa penderita menganggap dirinya paling baik, paling pintar, paling cantik, paling berwibawa dan lain seterusnya.
Ingatkah kita dengan perkataan Iblis ketika diperintah untuk tunduk kepada Nabi Adam as. dalam QS. al-A’raf ayat 12 disebutkan :
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan saya dari api sedangkan ia, Engkau ciptakan dari tanah
Biasanya ‘ujub akan melahirkan penyakit lain yaitu ‘thulul amal’ angan-angan yang panjang. Mereka yang merasa diri lebih dari orang lain selanjutnya akan mengangan-angan dalam lamunan. “Karena aku orang paling berwibawa di kampung ini, maka jika ada pejabat datang pastilah nanti akan menemuiku, jika menemuiku pastilah aku jadi banyak relasi, jika banyak relasi, maka aku akan…” dan terus tidak ada ujungnya. Jika penyakit ini telah menyergap pada diri seseorang, maka ia akan menjadi serang penghayal yang malas untuk bertindak dan berkreasi, karena lamunan yang panjang. Seperti malasnya pemasang lotre menunggu nasib.
Maka sudah seharusnya, jika kita ingin menyelamatkan diri, keluarga, lingkungan/masyarakat bahkan juga bangsa tercinta ini, marilah kita bersama-sama berusaha dan melatih diri menghindari ketiga penyakit itu. Dan tidak lupa berdo’a kepada Allah swt agar memberikan petunjuk-Nya dan mempermudah jalan kita dalam menghindari penyakit tersebut. Bukankah sesungguhnya iman dan taqwa yang ada dalam diri kita merupakan anugerah dari-Nya?

Sumber : http://www.nu.or.id

0 komentar:

Poskan Komentar